Sektor perjalanan sedang mengalami perubahan yang cepat, ditandai dengan persyaratan identifikasi yang lebih ketat, peningkatan adopsi kecerdasan buatan (AI), dan meningkatnya kerentanan terhadap peristiwa cuaca ekstrem. Tren-tren ini secara kolektif mengubah cara orang berpindah, cara perusahaan beroperasi, dan cara destinasi mempersiapkan masa depan.

Penegakan ID Asli TSA: Penghalang Perjalanan Baru

Dalam waktu dekat, Administrasi Keamanan Transportasi (TSA) akan membebankan biaya kepada penumpang $45 jika mereka tidak dapat menunjukkan SIM atau paspor yang masih berlaku. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat keamanan namun menambah hambatan finansial bagi wisatawan, terutama mereka yang tidak mengetahui aturan baru tersebut. Kebijakan ini dirancang untuk menyelaraskan dengan standar keamanan pasca 9/11, yang mengharuskan identifikasi yang dapat diverifikasi untuk perjalanan udara domestik.

AI Menjadi Pusat Perhatian di Expedia

Expedia Group telah menunjuk Xavier Amatriain, mantan Wakil Presiden Google, sebagai Chief AI dan Data Officer pertama. Hal ini menandakan komitmen besar untuk mengintegrasikan AI ke dalam inti operasinya. Expedia bermaksud memanfaatkan AI untuk rekomendasi perjalanan yang dipersonalisasi, harga yang dioptimalkan, dan peningkatan layanan pelanggan. Langkah ini menyoroti semakin besarnya keyakinan industri bahwa AI bukan sekadar alat, namun merupakan kebutuhan kompetitif.

Piala Dunia 2026: Peningkatan Pariwisata untuk AS

Amerika Serikat menaruh harapan pada Piala Dunia FIFA 2026 untuk menghidupkan kembali pariwisata internasional. Setelah tahun yang lambat dalam hal perjalanan masuk, turnamen ini diperkirakan akan menarik jutaan pengunjung, sehingga memberikan pendapatan yang signifikan bagi perekonomian lokal. Keberhasilan strategi ini bergantung pada perencanaan infrastruktur dan kampanye pemasaran yang efektif untuk memanfaatkan jangkauan global acara tersebut.

Badai Melissa Mengungkap Kerentanan Karibia

Badai Melissa telah memaksa penutupan setidaknya 26 resor di Jamaika, mengganggu puncak musim pariwisata dan membuat destinasi Karibia rentan terhadap cuaca ekstrem. Insiden ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan langkah-langkah ketahanan iklim, termasuk peningkatan infrastruktur, protokol kesiapsiagaan bencana, dan praktik pariwisata berkelanjutan. Mengabaikan risiko-risiko ini hanya akan menyebabkan gangguan dan kerugian ekonomi yang lebih sering terjadi.

Konvergensi kebijakan perjalanan yang lebih ketat, inovasi yang didorong oleh AI, dan gangguan yang disebabkan oleh iklim mendefinisikan realitas baru bagi industri perjalanan. Pelaku bisnis dan wisatawan harus beradaptasi dengan perubahan ini atau berisiko tertinggal.