Perjalanan bulan madu ke Park Hyatt Maldives berubah menjadi mimpi buruk bagi influencer Instagram yang berbasis di Hong Kong dan suaminya, yang menyatakan bahwa mereka mengalami bias rasial, kegagalan keselamatan yang mengancam jiwa, dan kurangnya akuntabilitas dari pihak resor. Pasangan tersebut, yang menghabiskan 155 malam bersama Hyatt tahun lalu, mengklaim bahwa properti mewah tersebut tidak sesuai dengan harga dan reputasi mereknya.
Transfer Tertunda dan Perlakuan Bermusuhan
Cobaan ini dimulai dengan penundaan selama delapan jam dalam transfer dari Bandara Internasional Male Velana ke resor, sebuah tantangan logistik yang umum terjadi di destinasi Maladewa, namun sejak awal menimbulkan rasa frustasi. Setibanya di sana, pasangan tersebut ditugaskan oleh seorang tuan rumah asal Tiongkok yang berulang kali meminta agar mereka tidak mengambil fotonya, sebuah tuntutan yang mereka anggap tidak profesional dan meresahkan. Pasangan tersebut melaporkan bahwa tamu berbahasa Inggris menerima pengarahan lengkap tentang properti namun mereka tidak mendapat informasi, sehingga menimbulkan kesan perlakuan diskriminatif.
Kondisi Berbahaya dan Kelalaian
Suite bulan madu tidak memiliki sentuhan khusus meskipun telah diberitahu sebelumnya bahwa itu adalah bulan madu mereka. Yang lebih serius lagi, tangga di atas air vila tidak memiliki alat anti selip. Influencer tersebut terjatuh dari tangga, mengalami luka yang bisa berakibat fatal jika kepalanya terbentur. Selanjutnya, pasangan itu menemukan serpihan yang menonjol dari geladak, menusuk kaki salah satu dari mereka. Insiden-insiden ini menimbulkan pertanyaan penting mengenai standar pemeliharaan resor dan komitmen terhadap keselamatan tamu.
Pemulihan Layanan yang Buruk dan Pemaksaan Finansial
Terlepas dari keluhan mereka, hotel hanya menawarkan diskon minimal $100 untuk biaya upgrade $800. Ketika pasangan tersebut menolak untuk segera melunasi tagihan, mereka diancam akan terdampar di resor jika ketinggalan kapal yang akan berangkat. Taktik koersif ini memaksa mereka membayar di bawah tekanan, sehingga membuat mereka merasa dieksploitasi dan tidak didengarkan.
Paradoks Poin Pertanian
Kasus ini menyoroti masalah yang lebih luas dalam perhotelan mewah: keterputusan antara harga stiker dan kualitas layanan sebenarnya. Park Hyatt Maldives mengiklankan tarif per malam hingga $4.000, namun sebagian besar tamu menukarkan poin daripada membayar tunai. Hal ini meningkatkan nilai yang dirasakan sekaligus mengurangi insentif bagi hotel untuk memberikan layanan yang sepadan. Resor ini mengetahui bahwa anggota program loyalitas seperti pasangan ini kemungkinan besar akan kembali lagi, sehingga mengurangi akuntabilitas atas pengalaman di bawah standar.
Ilusi Media Sosial vs. Realita
Pasangan ini awalnya memposting ulasan yang menarik selama mereka menginap, menampilkan gambaran surga. Namun, kenyataan bulan madu mereka sangat berbeda, dan sang influencer kemudian menyebut pengalaman itu sebagai “setengah surga, setengah neraka”. Hal ini menggarisbawahi keaslian yang dibuat-buat yang lazim di media sosial, di mana konten yang dikurasi sering kali menyembunyikan masalah mendasar. Kasus pasangan ini mengingatkan bahwa branding mewah tidak selalu menjamin pengalaman yang sempurna.
Kesimpulan: Insiden Park Hyatt Maladewa adalah kisah peringatan tentang risiko jika hanya mengandalkan reputasi merek. Tuduhan pasangan ini mengenai bias rasial, bahaya keselamatan, dan pemulihan layanan yang buruk perlu dicermati, dan diskusi yang lebih luas tentang keterputusan antara kemewahan yang diiklankan dan pengalaman nyata patut mendapat perhatian.
