Wisatawan terkaya di dunia tidak lagi mencari kemewahan belaka; mereka menuntut eksklusivitas. Layanan yang dipersonalisasi, akses pribadi, dan pengalaman yang dirancang agar tidak dapat dicapai oleh orang lain kini menjadi ekspektasi dasar bagi mereka yang memiliki aset yang dapat diinvestasikan setidaknya $30 juta. Ini bukan hanya tentang hotel mewah atau vila mewah – ini tentang industri yang sedang berkembang yang dibangun berdasarkan prinsip bahwa uang dapat membeli apa yang tidak dapat dibeli oleh orang lain.
Bangkitnya Perjalanan yang Sangat Dipersonalisasi
Permintaan akan pengalaman perjalanan yang disesuaikan dengan kebutuhan memicu “perlombaan senjata” di antara penyedia layanan rekreasi kelas atas. Perusahaan seperti Virtuous Travel & Concierge, dan program loyalitas seperti Vavius Club, melayani klien yang memandang perjalanan bukan sebagai liburan, namun sebagai demonstrasi status. Pendekatan mereka bukan tentang menjual perjalanan; ini tentang memenuhi tuntutan dan ekspektasi terliar dari kaum ultra-kaya.
Menurut Carlo Nocella, kepala penjualan global di Vavius Club, klien tidak puas dengan perlakuan standar VIP. Mereka menginginkan sesuatu yang benar-benar di luar jangkauan wisatawan biasa. Ini termasuk… yah, apapun yang dapat mereka bayangkan.
Contoh Ekstrem dari Layanan Ultra-Mewah
Respons industri ini adalah dengan menawarkan properti dan layanan yang paling unik. Meskipun contoh-contoh spesifik sering kali dirahasiakan, tren yang mendasarinya jelas: kaum ultra-kaya bersedia membayar puluhan ribu dolar untuk pengalaman yang tidak sesuai dengan kemewahan konvensional. Hal ini bisa berarti mengamankan akses pribadi ke acara-acara eksklusif, mengatur transportasi di menit-menit terakhir dengan cara apa pun yang diperlukan (termasuk, kabarnya, pengiriman pasir darurat untuk membuat pantai pribadi), atau memastikan bahwa tidak ada dua perjalanan yang sama.
Mengapa Ini Penting
Perluasan perjalanan hipermewah bukan sekadar ceruk pasar; Hal ini mencerminkan tren konsentrasi kekayaan yang lebih luas dan meningkatnya kekuasaan orang-orang terkaya di dunia. Seiring dengan melebarnya kesenjangan antara kelompok kaya dan kelompok lain, permintaan akan pengalaman yang memperkuat stratifikasi sosial juga meningkat. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang kesetaraan, keberlanjutan, dan etika dalam memenuhi kebutuhan yang berlebihan.
Kelompok ultra-kaya tidak sekadar mencari kenyamanan; mereka membeli rasa superioritas, dan industri sangat bersedia mewujudkannya.


















