Ini adalah rahasia yang tidak akan bertahan lama: Anda dapat berjalan di lorong jet United Airlines dan, tergantung harinya, menyaksikan anggota kru menyesap minuman.

Mereka tidak bekerja. Mereka hanya penumpang yang kebetulan mengenakan seragam.

United adalah yang paling menonjol di sini. Di antara maskapai penerbangan besar AS, hanya United yang mengizinkan pramugarinya mengonsumsi alkohol saat melakukan “deadheading”. Air Canada juga mengizinkannya, tapi Delta? Amerika? Tidak terlalu banyak.

Perbedaannya terletak pada waktu henti beberapa jam dan serangkaian aturan ketat tertentu.

Deadheading: Saat Kru Hanya Penumpang

“Deadheading” adalah istilah industri untuk terbang sebagai penumpang dari Titik A ke Titik B. Anda tidak menjaga pintu keluar. Anda tidak menyajikan kopi. Anda hanya duduk di 34B berharap ada kursi kosong di sebelah Anda.

Hal ini biasanya terjadi saat Anda mengubah posisi untuk shift berikutnya atau kembali ke markas setelah perjalanan jauh.

Tapi inilah masalahnya: ini tidak selalu berarti downtime. Kadang-kadang, Anda mengalami kebuntuan selama satu jam dan segera berangkat untuk mengerjakan bagian berikutnya. Dalam kasus tersebut, sama sekali tidak ada minuman keras. Mengapa? Karena Anda masih bekerja. Otak Anda harus tajam untuk lepas landas.

Alkohol hanya masuk ke dalam persamaan ketika deadhead adalah tugas terakhir hari itu.

Misalnya, Anda menyelesaikan tugas 12 jam, terbang pulang sebagai penumpang dalam perjalanan pulang jarak jauh, dan tidak memiliki jadwal tugas lain hingga besok. Saat itulah United membiarkan kru bersantai dengan bir atau koktail.

Maskapai lain melihat ini sebagai risiko tanggung jawab. United melihatnya sebagai dorongan moral.

Peraturannya Ketat

Hanya karena Anda diperbolehkan minum bukan berarti Anda diundang ke kekacauan bar terbuka. Kebijakannya lebih ketat dari yang Anda kira.

Pertama, Anda tidak boleh memakai seragam. Jika Anda sedang menyesap margarita, sebaiknya Anda mengenakan jeans dan kaos oblong. Ini bukan tentang bersembunyi; ini tentang pemisahan yang jelas antara “anggota kru yang bertugas” dan “karyawan yang sedang istirahat”.

Kedua, pintunya harus ditutup. Dan semuanya harus dipersiapkan untuk keberangkatan.

Sebelum tegukan pertama menyentuh bibir, penerbangan harus siap meluncur. Mengapa? Karena keadaan darurat terjadi. Sistem gagal. Kru dapat berubah pada menit-menit terakhir. Jika supervisor membutuhkan anggota kru yang siaga untuk melakukan penerbangan secara tidak terduga, mereka membutuhkan Anda dalam keadaan sadar, waspada, dan berseragam.

Salah satu alasan untuk tidak mengizinkan hal ini adalah karena merek: ada sejarah panjang yang tidak ingin karyawan terlihat minum alkohol.

Jika Anda ketahuan minum sambil mengenakan dasi United, Anda melanggar kebijakan. Jika Anda ketahuan minum saat seharusnya siap berangkat, Anda berada dalam masalah besar.

Citra Merek dan Masalah Keamanan

Anda mungkin bertanya, mengapa maskapai lain begitu ketat?

Itu sebagian karena merek. Maskapai penerbangan menghabiskan jutaan dolar untuk menciptakan citra profesionalisme. Foto-foto pilot yang mencampur minuman di majalah penerbangan telah memicu skandal. Penumpang tidak ingin merasa terbang bersama awak pesawat yang sedang mabuk. Ini adalah gagasan kuno, tapi tetap ada.

Lalu ada logistik. Dengan jaringan rute yang sangat besar, pilot atau pramugari yang didiskualifikasi karena terlalu mabuk berarti penerbangan dibatalkan. Maskapai penerbangan membayar karyawan ini baik mereka terbang atau duduk di posisi deadhead. Jadi mengapa mengambil risiko skenario di mana Anda tiba-tiba membutuhkan seseorang, tetapi mereka tidak dapat menjalankan tugasnya?

Biaya seorang karyawan yang mabuk jauh melebihi biaya minuman gratis dalam jangka panjang.

Kenyataan di Lapangan

Jujur saja. Manusia tidak dapat diprediksi.

Saya pernah melihat pramugari menyembunyikan botol kecil berisi alkohol di dapur tepat di depan dewan inspektur FAA. Itu berisiko. Ini bertentangan dengan kebijakan. Tapi orang-orang melakukannya.

Saya pernah melihat pilot mengeluarkan seluruh botol anggur dari pesawat setelah penerbangan. Secara teknis, ini bukan masalah keamanan, tapi jelas merupakan pelanggaran semangat. Kisah-kisah seperti ini beredar di internet penerbangan tanpa henti.

Maskapai penerbangan tahu bahwa tenaga kerjanya adalah manusia. Di antara puluhan ribu karyawan, selalu ada yang berjuang melawan kecanduan. Beberapa akan mengalami penyimpangan. Japan Airlines tidak kebal. Begitu pula dengan United.

Itu sebabnya maskapai penerbangan ini memiliki program keselamatan. Mereka mendorong kru untuk mencari bantuan tanpa kehilangan karier mereka. Idenya adalah jika seseorang mengalami kesulitan, mereka bisa mendapatkan dukungan sebelum masalah tersebut menjadi masalah keselamatan.

Namun program-program ini tidaklah sempurna. Mereka tidak menghentikan semua orang. Beberapa menyembunyikannya. Beberapa melanggar aturan.

Jadi, lain kali Anda berada dalam penerbangan United dan Anda mendengar dentingan es di gelas, ingatlah: anggota kru tersebut kemungkinan besar sedang mengalami deadhead, mengenakan pakaian jalanan, dan menunggu hari berakhir.

Atau mungkin mereka hanya benar-benar menikmati anggurnya.

Ini adalah sebuah keistimewaan kecil. Sebuah celah kecil di pintu ketatnya maskapai penerbangan. Dan bagi sebagian orang, hal ini membuat perjalanan bermil-mil jauhnya menjadi sedikit lebih tertahankan.